5 Tips Ini Bisa Membangun Kemandirian Anak Lho!

Strawberry Generation kini menjadi istilah yang cukup populer. Mereka yang lahir tahun 90an hingga 2000an tergolong dalam generasi yang rapuh seperti kulit buah stroberi.

Karena lahir pada masa yang cukup damai, tidak terjadi perang, terhindar dari bencana kelaparan serta tumbuh di lingkungan ekonomi yang cukup baik, generasi stroberi tak mengalami kesulitan dan tantangan dalam hidup.

Seperti buah stroberi yang dikembangkan di rumah kaca dan mendapatkan treatment khusus hingga dihargai cukup mahal di pasaran.

 

Generasi stroberi pun dianggap sebagai individu mahal di mata orangtuanya. Selalu dibanggakan, dipamerkan tiap keahlian dan perkembangannya. Tidak boleh merasakan kesusahan karena semua serba dilayani serta tumbuh bersama dengan teknologi yang semakin memudahkan hidupnya.

 

Sayangnya, generasi stroberi tak tahan tekanan, egois, mudah tersinggung dan lamban dalam bekerja seperti kuliat buah stroberi yang tipis.

 

Apakah orangtua berpikir dengan memberikan segalanya dan memberikan kehidupan yang mudah bagi anak, mereka bisa hidup lebih baik?

 

FAKTANYA TIDAK. Mereka tak tahan banting. Tiap kali menemukan kesulitan, mereka cenderung menyerah dan minta bantuan.

Karena terbiasa dilayani orangtua, mereka mengalami kesusahan dalam berjuang.

Kemandirian adalah kuncinya. Inilah karakter yang dibutuhkan tiap anak agar mereka berani dan siap menjalani hidup.

 

Anak-anak kita membutuhkan kondisi dan situasi yang sulit, tapi tetap terkontrol orangtua. Kita harus percaya pada kemampuan mereka untuk mengambil keputusan sendiri terkait kebutuhan hidupnya.

 

Berikut adalah beberapa tips membangun kemandirian anak.

1. Jangan Ikut Campur Masalah Anak

Orangtua seharusnya tak terlalu mengekang dan membuat keputusan sendiri tanpa melibatkan anak. Tidak khawatir berlebihan saat anak ingin mencoba hal-hal baru, melepaskan anak menikmati hidupnya dengan kontrol yang wajar.

 

Anda harus percaya, anak adalah seekor rajawali yang mampu terbang dengan kecepatan tinggi.

 

Anak-anak kita terlahir dengan sepaket potensi yang bisa digunakan sebagai alat untuk mengarungi kehidupan. Orangtua seharusnya tidak tidak dengan sengaja memudahkan dan memuluskan jalan anak-anak mencapai harapannya.

Jangan khawatir dengan pengalaman dan kemampuannya yang masih terbatas.

Melahirkan, merawat, membesarkan, menyekolahkan dan menghidupi anak membuat kita merasa berhak dan memiliki kekuasaan penuh atas diri anak.

Hingga kita melupakan fakta anak adalah seorang individu yang lahir dari kita, menjadi tanggung jawab kita, tapi mereka bukanlah kita. Anak-anak memiliki kehidupannya sendiri.

2. Jangan Terlalu Sering Melarang Anak

Berapa banyak individu yang tidak berani keluar dari zona nyaman karena takut gagal, takut ditolak dan takut tidak rugi?

Semua itu berawal dari larangan-larangan yang melemahkan keoptimisan anak. Contoh dari larangan yang biasa orangtua katakan;

“Jangan kesana, itu gelap”

“Jangan lari-lari nanti jatuh”

“Jangan hujan-hujan nanti sakit”

Anak-anak memang sulit untuk diam dan sangat hobi mengeksplorasi sesuatu yang baru. Itulah fitrah mereka.

 

Jadi, berhentilah overprotective!

 

Bantu anak-anak menemukan kegiatan yang menantang, seru dan menambah wawasan. Dengan begitu, kemandirian dan keuletan anak bisa terbentuk sejak dini.

3. Tidak Meremehkan Kemampuan Anak

Dengan kemampuan terbatas, bantuan dari anak sering diabaikan dan diremehkan.

“Memangnya kamu bisa?”

“Sudah diam saja, anak kecil tahu apa sih?”

“Kamu belajar aja yang rajin. Ini bukan urusanmu.”

“Kak, itu berat. Sudah biar ibu saja yang bawa.”

Jika kebiasaan merendahkan anak-anak Anda tumbuhkan, sama saja Anda MELEMAHKAN pikiran positif dan kepercayaan anak terhadap kemampuannya sendiri.

Lama-lama, mereka akan percaya bahwa kemampuannya memang tak berguna dan berarti.

Jika tidak segera Anda ubah kebisaan ini, anak bisa memandang segala hal dalam frame pesimistis.

Semua kesulitan akan dianggap sebagai masalah bukannya tantangan. Merasa tak mampu, tak berdaya dan lemah.

4. Tidak Mewujudkan Semua Keinginan Anak

Melatih kemandirian anak bisa dilakukan dengan cara mengajari prioritas hidup.

Penting bari orangtua untuk menentukan kebutuhan mana yang perlu diprioritaskan, kesenangan apa yang perlu ditunda dan keinginan apa yang perlu anak perjuangkan sendiri.

 

Kebutuhan terkait sandang, papan, pangan tentu menjadi kewajiban bagi orangtua. Namun, cemilan atau mainan sebaiknya diberikan saat anak melakukan kebaikan.

 

Kita akan penuhi segala kebutuhan dan keinginan anak, tapi dengan cara proporsional dimana mereka mengerti bahwa untuk mendapatkan sesuatu itu butuh usaha lebih dulu.

Misalnya, saat anak menginginkan laptop. Anda bisa mengajak mereka untuk patungan.

“Ayah akan bantu kamu 70%, sisanya kamu harus bisa beli pakai uang tabunganmu sendiri”

“Tiap kali kamu bantu ayah atau berperilaku baik, ayah akan kasih tambahan uang saku. Kamu bisa tabung supaya bisa cepat beli laptop.”

5. Mengajarkan Cara Mengelola Uang

Pengelolaan keuangan jarang diajarkan orangtua pada anak. Kita anggap ini tak penting, toh dewasa nanti anak-anak akan paham dengan sendirinya.

 

Tapi, kemandirian anak sangat bisa dibangun melalui cara ini. Anda bisa memberikan uang saku bulanan dan minta mereka mengelola uang saku sendiri.

 

Katakan pada mereka bahwa Anda takkan memberi tambahan uang saku kalau habis sebelum waktunya.

Materi pengelolaan keuangan dibutuhkan untuk menjauhkan anak dari sikap konsumtif atau kecenderungan memuaskan keinginan tanpa melihat kemampuan dan kebutuhan.

Anak juga akan terbiasa hidup teratur dan mandiri.


Tips di atas juga bisa Anda terapkan untuk anak prasekolah maupun usia sekolah.

Faktor yang mempengaruhi kemandirian anak sebenarnya sangat tergantung dari pola asuh orangtuanya.

Seperti hal-hal sederhana yang saya contohkan di atas, apabila Anda bisa menerapkannya sesuai dengan porsi dan kebutuhan anak, insyallah mereka bisa tumbuh menjadi anak yang mandiri serta tidak bergantung pada orangtuanya.

Formulir Pendaftaran Siswa Baru (SD, SMP, SMA)
DAFTAR SEKARANG