Tips Jitu Membangun Konsep Diri Positif pada Anak

Konsep diri memiliki peran penting dalam kehidupan anak. Keberhasilan mereka di sekolah, karir dan juga hidup tergantung pada hal ini.

Apakah positif atau negatif? Sekarang, saya akan tunjukkan pada Anda cara praktis membangun konsep diri positif pada anak.

1. Cerita Sukses

Tiap orang pasti punya cerita sukses. Demikian juga dengan anak Anda. Cerita sukses ini tidak harus keren seperti menang olimpiade atau menjadi juara kelas.

 

Cukup cerita sederhana tapi mampu membuat anak Anda merasa bangga dengan dirinya sendiri.

 

Dulu waktu kecil saya selalu menemani seorang nenek janda dan tinggal sendiri di rumahnya.

Beliau suka sekali kalau saya main ke rumahnya, menemani dan mendengarkan ceritanya. Akhirnya, tiap hari saya selalu dikasih makanan kecil supaya betah main di rumahnya.

Nenek itu selalu memuji saya dan mengatakan ‘kamu ini punya hati yang welas asih dan sayang sama orangtua’.

Ini cerita yang sangat sederhana. Tapi, ini cerita sukses saya. Saya tersentuh dengan ucapan beliau dan selalu mengingatnya. Cerita ini membuat saya bangga terhadap diri saya sendiri.

 

Ternyata saya ini dibutuhkan dan ada manfaatnya.

 

Carilah cerita sukses anak-anak Anda. Ajak mereka menuliskan atau menggambarkannya. Kemudian, minta mereka menyimpan tulisan atau memajang gambar itu di dinding kamarnya.

Dengan tujuan anak mengingat cerita suksesnya. Anak-anak seharusnya fokus pada kelebihan dan kesuksesan yang mampu mereka raih.

Bukan fokus mengingat kekurangannya karena kalimat yang sering Anda ucapkan padanya adalah tentang nilai buruk dan kemalasannya dalam belajar.

2. Tanda Sukses

Tanda ini juga bisa disebut dengan simbol. Kalau Anda pernah juara olimpiade, mungkin Anda akan mendapatkan piala atau piagam.

Inilah yang disebut dengan simbol atau tanda sukses. Saya yakin tiap orang memilikinya. Bentuknya tak harus selalu piala atau piagam. Cerita dibaliknya pun tak harus lomba akademis.

 

Dulu waktu duduk di bangku SMP saya pernah mendapat hadiah uang dari seorang guru matematika.

 

Jumlahnya memang tak seberapa cuma Rp 1000. Tapi, saya bangganya bukan main dan uang itu masih saya simpan sampai hari ini.

Guru matematika saya itu melontarkan pertanyaan kepada seluruh murid di kelas. Siapa yang bisa menjawabnya, akan mendapatkan uang Rp 1000.

Wah, ternyata teman sekelas saya tidak ada yang bisa menjawab. Saya mengacungkan tangan dan menjawabnya dengan lantang.

Benar! Jawaban saya benar dan dapat uang Rp 1000.

Sangat sederhana dan mungkin bagi orang lain itu tak berarti apa-apa. Tapi, saya merasa hebat karena bisa menjawab pertanyaan yang mana tak ada orang bisa menjawabnya.

Carilah simbol atau tanda sukses anak Anda.

Tanyakan padanya hal apa saja yang membuat mereka bahagia, bangga dan merasa hebat dengan dirinya sendiri.

Jika sudah menemukannya, pajanglah simbol atau tanda sukses ini di tempat yang mudah dilihat oleh anak.

Agar mereka selalu ingat bahwa pernah ada hari dimana mereka mengalami kesuksesan. Ingatkan terus mengenai kesuksesannya itu.

3. Pernyataan Positif

Cara membangun konsep diri positif selanjutnya adalah membiasakan anak mengucapkan pernyataan positif. Dalam dunia hipnotis, pernyataan ini sering disebut afirmasi.

Bukan sekedar mengucapkan, tapi harus dirasakan dan diucapkan sungguh-sungguh. Syarat untuk membuat pernyataan positif antara lain,

  • POSITIF. Jangan menggunakan kalimat, ‘saya bukan pemalas’. Gantilah dengan Saya adalah anak yang rajin. Saya bisa menyelesaikan tugas sekolah dengan baik.’
  • SEKARANG. Jangan menggunakan keterangan waktu besok, ‘besok, saya akan menjadi anak rajin.’ Gantilah dengan ‘Sekarang saya adalah anak rajin.’
  • PRIBADI. Gunakanlah kata ‘saya’ supaya lebih terasa. ‘Saya mampu menjadi anak yang disiplin.’
  • KONSISTEN. Lakukanlah secara disiplin tiap hari selama 30 hari tanpa berhenti.
  • ANTUSIASME TINGGI. Jangan sekedar diucapkan sambil lalu. Tapi, harus penuh semangat untuk memperbaiki konsep diri agar dampaknya lebih cepat terlihat.

 

Guru kita di sekolah terbiasa memberikan label negatif pada muridnya. Baik secara langsung maupun tidak.

 

Saya masih ingat waktu duduk di bangku SMP. Ketika itu sekolah menyeleksi murid ‘pintar’ dan ‘bodoh’ untuk dikelompokkan jadi satu.

‘Pintar’ dengan yang ‘pintar’. ‘Bodoh’ dengan yang ‘bodoh’.

Dan, saya masuk dalam kelompok 5 yang tergolong bodoh. Sedangkan, kelompok 6 adalah yang paling bodoh.

 

Tujuan sekolah adalah untuk memudahkan guru dalam menyampaikan materi pelajaran. Kalau yang pintar digabung dengan yang bodoh, kasihan yang pintar. Harus menunggu dan berjalan lambat bareng si bodoh.

 

Tapi, secara tak langsung sekolah sudah memberi label bodoh untuk saya dan teman-teman sekelas saya. Alhamdulillah sekarang saya sudah belajar mengenai konsep diri positif.

Jadi, saya tak lagi memikirkan label-label bodoh dari guru maupun sekolah.

Nah, bagi anak-anak yang tak memiliki kesadaran mengenai virus label bodoh yang makin hari menggerogoti mental ini sebaiknya Anda segera ajarkan anak bagaimana membuat pernyataan positif.

4. Visualisasi

Ini adalah cara membangun konsep diri positif pada anak yang paling menyenangkan.

Sesaat sebelum tidur, ajak anak tiduran santai dan ceritakan kisah heroik dimana anak menjadi pemeran utamanya.

Anda boleh mengadaptasi dongeng anak atau mengarang dongeng sendiri.

Anak harus menjadi PEMERAN UTAMA yang mana perilakunya positif, pemberani, percaya diri, rajin, disipilin, pintar atau sifat khusus yang Anda harapkan ada pada diri anak.

Formulir Pendaftaran Siswa Baru (SD, SMP, SMA)
DAFTAR SEKARANG